Esai : Infrastruktur Maju, Ekonomi Melaju

Infrastruktur Maju, Ekonomi Melaju

Oleh : Hijrah Anggraini Nashuha

 

Sejak negara Indonesia mengalami krisis ekonomi  pada pertengahan tahun 1997-1998 pembangunan infrastruktur Indonesia terhambat bahkan bisa dibilang terhenti. Keterpu rukan pembangunan infrastruktur di Indonesia, baik sebelum maupun setelah krisis ekonomi bukan hanya disebabkan oleh faktor internal, seperti minimnya anggaran pemerintah di sektor pembangunan, namun juga berasal dari faktor-faktor eksternal seperti sengketa pembebasan tanah.

Infrastruktur  meliputi  jalan,  jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, bandar udara, jaringan telekomunikasi. Infrastruktur juga berupa energi listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan gas yang dibutuhkan untuk mendukung transportasi, industri dan rumah tangga. Fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, pasar, kantor polisi, serta  fasilitas  air  yang  meliputi  air  bersih,  penanganan  limbah,  DAM,  irigasi,  dan  pengaturan    juga  merupakan infrastruktur negara yang sangat dibutuhkan  demi  mendukung  tercapainya  kesejahteraan  masyarakat  suatu  negara. 

Menurut data World Economic Forum (WEF) tahun 2015-2016 menyatakan bahwa berdasarkan aspek infrastruktur, Global  Competitiveness  Index  yang  dimiliki  Indonesia  berada  pada  peringkat  62  di  antara  140  negara,  dengan  peringkat  infrastruktur transportasi menempati posisi ke 39 dari 140 negara, sedangkan infrastruktur listrik dan telekomunikasi menempati posisi ke 80 dari  140  negara.  Di  kawasan  negara  Asia,  peringkat  infrastruktur  Indonesia  masih  tertinggal  dibandingkan  Hong  Kong  yang menempati  peringkat  1  dan  Singapura  yang  menempati  peringkat  2  terbaik    dunia.  Sedangkan  untuk  peringkat  di  kawasan ASEAN,  Indonesia  menempati  peringkat  keempat  setelah  Singapura,  Malaysia,  Thailand.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa pembangunan  infrastruktur  yang  memadai  di  Indoenesia  masih  kurang  kuantitas  dan  kualitasnya  dibandingkan  negara-negara Asia  lainnya  yang  tercatat  di  WEF  Report. 

Untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur dan juga mengejar ketertinggalan infrastruktur Indonesia terhadap negara lain, terutama negara-negara tertangga, dan juga demi mendongkrak perekonomian serta kesejahteraan masyarakat maka Indonesia saat ini sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Indonesia masih dalam kategori negara berkembang dengan infrastruktur yang bisa dibilang rendah, bahkan masih di bawah negara tetangga seperti singapura, Thailand dan Malaysia. Dengan adanya pembangunan infrastruktur yang masif ini menjadi salah satu cara dari pemerintah untuk mencapai Indonesia menjadi negara maju, yang tentunya dengan perbaikan dari bidang-bidang lain.

Mengapa Harus Membangun Infrastruktur

Dengan rendahnya infrastruktur yang ada di Indonesia itu berarti perekonomian negara Indonesia berjalan dengan tidak efisien. Hal ini ditandai dengan biaya logistik yang sangat tinggi, yang berujung pada perusahaan dan bisnis yang kekurangan daya saing, karena tingginya biaya logistik tersebut. Rendahnya infrastruktur Indonesia juga menyebakan adanya ketidakadilan sosial, seperti sulit bagi sebagian penduduk untuk mendapatkan fasilitas kesehatan, susahnya anak-anak untuk mengakses pendidikan terutama di daerah pedalaman, dan minimnya fasilitas publik.

 Pembangunan infrastruktur dan kemajuan ekonomi memiliki hubungan yang tak terpisahkan, dengan adanya pembangunan infrastruktur, proses ekonomi dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, ketika ada kemajuan atau ekspansi ekonomi membutuhkan infrastruktur yang lebih luas untuk melancarkan aliran barang dan orang yang bergerak dalam kegiatan ekonomi. Jika ekonomi mengalami penambahan kuantitas sementara pembangunan infrastruktur tak sebanding, maka akan menghambat sirkulasi kegiatan ekonomi.

Biaya logistik yang tinggi di Indonesia bisa menyebabkan perbedaan harga yang substansial di antara provinsi-provinsi di nusantara. Harga barang-barang di Jawa relatif lebih murah dibanding di luar Jawa. Hal ini disebabkan salah satunya karena infrastruktur Indonesia berpusat pada Jawa, sementara di daerah selain Jawa terutama pinggiran Indonesia bisa dikatakan sangat kurang.

Infrastruktur yang kurang memadai juga membuat daya tarik investasi menurun. Banyak calon investor yang khawatir dan ragu untuk berinvestasi di Indonesia, salah satu sebabnya karena besarnya biaya logistik. Menurut data yang diterbitkan oleh Kamar Dagang Indonesia dan Industri (Kadin Indonesia), dari total pengeluaran perusahaan di Indonesia, sekitar 17 persen diserap oleh biaya logistik. Padahal dalam ekonomi negara-negara tetangga, angka ini hanya di bawah sepuluh persen.

Indonesia merupakan negara kepulauan yag terdiri 17.000 pulau dan laut yang luas, rentan dengan bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami. Selain itu Indonesia juga negara tropis yang rentan akan hujan deras yang bisa menyebabkan banjir dan longsor. Pembangunan infrastruktur sangat diperlukan untuk mitigasi bencana yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Untuk itu perbaikan dan pembangunan infrastruktur yang baik tentunya juga memikirkan untuk mitigasi bencana. 

Pemerintah Indonesia sadar akan pentingnya untuk memperbaiki keadaan infrastruktur demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa. Dengan adanya infrastruktur yang baik maka akan menekan biaya logistik sehingga kegiatan ekonomi  dapat berjalan dengan lancar. Infrastruktur yang baik, ekonomi yang stabil, dan adanya mitigasi bencana menjadikan iklim investasi dan bisnis menjadi lebih menarik bagi investor untuk investasi di Indonesia. 

Utang dan Anggaran Infrastruktur

Membangun infrastruktur bukanlah suatu hal yang murah, membangun jalan, tol,  sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik tentunya membutuhkan biaya yang tidak banyak. Semua infrastruktur itu dibangun dengan uang, sementara APBN  Indonesia defisit, meski dalam taraf aman seperti yang ada diamanatkan dalam undang-undang. Dimana kesenjangan antara pendapatan dan belanja tersebut ditutup dengan utang, baik utang dalam negeri maupun luar negeri.  Tak bisa dipungkiri bahwa di masa pemerintahan saat ini utang Indonesia membengkak. Masyarakat awam yang berpikiran dangkal pastilah menganggap hal ini sesuatu yang negatif. Padahal jika kita menilik lebih dalam justru hal ini adalah hal yang positif dalam kasus utang Indonesia pada masa pemerintahaan saat ini. Hal ini dikarenalkan Pemerintah telah mengantisipasi hal tersebut, yang salah satunya utang dikelola secara prudential dan hati-hati. Juga tidak lebih dari 3% sesuai dengan mandat undang-undang.

Sejak tahun 2015, pemerintah mengalihkan belanja subsidi menjadi belanja produktif, yakni pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Anggaran infrastruktur terus meningkat menjadi sekitar Rp 410 triliun pada tahun 2018. Pengalihan subsidi ini dirasa cukup tepat, dengan mengalihkan belanja subsidi menjadi belanja infratruktur menjadikan pengeluaran yang awalnya konsumtif menjadi produktif. Dalam keluarga kecil ada dua jenis utang secara garis besar, yakni utang untuk konsumsi dan uatng untuk produksi. Jika utang untuk konsumsi akan habis dan tak ada timbal balik. Sementara untuk produksi digunakan untuk usaha yang nantinya dapat menghasilkan untuk membayar utang tersebut. begitu juga yang terjadi di Indonesia, sebuah Negara adalah rumah tangga dalam skala besar. Meski utang banyak, utang tersebut digunakan untuk produksi, yang nantinya akan menghasilkan. Hasilnya tentu saja belum terlihat satu dua tahun, 10-30 tahun yang akan datang baru terasa hasil jerih payah saat ini. Sama seperti orang yang usaha, bahwa tak instan untuk menggapai kesuksesan.

Data  Kemenkeu  RI  menunjukkan  bahwa  kemampuan  pemerintah  Indonesia  untuk  mendanai pembangunan infrastruktur dengan menggunakan dana publik yang berasal dari negara sangat terbatas. Bappenas memperkirakan untuk  mencapai  target-target  pembangunan  infrastruktur  yang  ditetapkan  dalam  RJPM  Nasional  tahun  2015-2019  dana  yang diperlukan  mencapai  Rp  5.452  Triliun.  Dari  keseluruhan  dana  yang  dibutuhkan  tersebut,  pemerintah  pusat  dan  daerah  hanya mampu menyediakan dana sebesar Rp 1.131 Triliun. Hal ini berarti bahwa terdapat selisih pendanaan (financing gap) sebesar Rp 4.321  Triliun  yang  pemenuhannya  dapat  dicapai  melalui  pendanaan  alternatif  seperti  Kerjasama  Pemerintah  Swasta  (Public Private Partnership), dan dengan sumber pendanaan alternatif lain berupa dana dari pasar modal, dll.

Alokasi Belanja Infrastruktur Pemerintah Indonesia

Besarnya dana untuk pembangunan infrastruktur dan belanja lainnya, tak sebanding dengan pendapatan negara. Sehingga pemerintah memutar otak dengan menerbitan surat utang negara (SUN). Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), komposisi utang pemerintah sebesar 63,7 persen berupa pinjaman pada 2010. Sisanya sekitar 36,3 persen merupakan utang dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Namun kini, porsi utang dari pinjaman tidak lebih dari 20 persen dari keseluruhan utang negara, sementara sisanya merupakan utang dari penerbitan SBN mencapai. Dalam konteks ini pemerintah mengambil keputusan yang cukup baik, bila dibanding utang kepada luar negeri. Sebab jika menerbitkan SUN, debitor (pemberi utang) merupakan Warga Negara Indonesia dimana nantinya juga kembali kepada negara berupa pajak dan tentunya semakin mendorong kesejahteraan masyarakat. 

 

Hasil Infrastruktur di Masa Depan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia  pada kuartal III sebesar 5,17 persen. Pertumbuhan ekonomi ini masih jauh dari harapan, terutama karena Indonesia membutuhkan pertumbuhan minimal 7 persen agar dapat menjadi negara maju pada tahun 2025. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah terus berupaya untuk menambah angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah upaya dalam rangka mendorong investasi untuk beragam sektor terkait infrastruktur. Tidak hanya infrastruktur pemerintah juga berupaya melakukan perbaikan dalam regulasi, fiskal, dan kelembagaan yang dilakukan guna mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara massif saat ini dapat menjadi investasi jangka panjang bagi sebuah negara.  Hal ini telah diteliti dalam sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat yang memperlihatkan tingkat pengembalian investasi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 60%. Sebuah studi dari World Bank  tahun 1994 juga menyatakan bahwa infrastruktur di suatu negara memiliki dampak pada elastisitas PDB (Produk Domestik Bruto) sebesar 0,07 sampai dengan 0,44. Catatan ini memberikan arti yakni setiap kenaikan 1 (satu) persen dari ketersediaan infrastruktur akan mampu membuat pertumbuhan PDB sebesar 7% sampai dengan 44%.

Dengan adanya infrastruktur yang memadai di masa depan, maka akan banyak investor yang siap berinvestasi di Indonesia. Sebab tingkat kekhawatiran akan tingginya biaya logistik telah berkurang, pembangunan infrastruktur yang mendukung mitigasi bencana juga menjadi jaminan bagi investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Optimisme dan Harapan Penulis Terhadap Infrastruktur Indonesia

Pembangunan infrastruktur sangat berdampak baik bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang merasakan langsung hasil dari infrastruktur tersebut. saat ini mungkin masih ada masyarakat yang skeptis terhadap hasil infrastruktur, namun 10-30 tahun mendatang mereka harus mengakui hasil dari jerih payah pemerintah yang saat ini terus melakukan pembangunan infrastruktur secara masif.

Meskipun pembangunan infrastruktur dibangun dengan sebagian dana dari utang, hal itu bukanlah masalah besar. Sebab utang tersebut dikelola oleh pemerintah dengan prinsip kehati-hatian. Selain itu, utang tersebut lebih banyak utang di dalam negeri dengan menerbitkan Surat Utang Negara dari pada utang kepada luar negeri, sehingga akan kembali kepada negara dalam bentuk pajak, dan kegiatan ekonomi yang lebih lancar.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/risiko/infrastruktur/item381?

https://kppip.go.id/tentang-kppip/perkembangan-pembangunan-infrastruktur-di-indonesia/

https://www.merdeka.com/uang/infrastruktur-indonesia-terbaik-ke-3-di-asia-tenggara.html

https://www.kemenkeu.go.id/publikasi/berita/ini-capaian-pembangunan-infrastruktur-indonesia/

https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4323193/ri-butuh-banyak-infrastruktur-bagaimana-pembiayaannya

https://www.validnews.id/PEMBANGUNAN-INFRASTRUKTUR-SEBAGAI-PRASYARAT-PERTUMBUHAN-EKONOMI-V0000251

https://www.kompasiana.com/dizzman/5bf7d0b6bde5757079246475/pentingnya-infrastruktur-dalam-menunjang-program-pemberdayaan-masyarakat

http://www.abouturban.com/2018/04/18/pentingnya-infrastruktur-bagi-suatu-negara/

https://www.dbs.com/indonesia-bh/blog/live-smart/bukan-hanya-untung-ini-alasan-pembangunan-infrastruktur-indonesia-penting.page

http://www.tribunnews.com/regional/2017/09/25/pentingnya-infrastruktur-untuk-peningkatan-ekonomi


NB: dibuat pada bulan janurari 2020, so mungkin nggak relevan untuk keadaan sekrang. masih ada unsur opnini pribadi juga. harap maklum ^^


Comments

Popular posts from this blog

ARTIKEL BADMINTON/BULU TANGKIS DALAM BAHASA INGGRIS DAN ARTINYA

CONTOH SOAL AKUNTANSI (transaksi)

contoh soal akuntansi buku besar pembantu